Perdana Menteri Israel ke-11
Ariel
Sharon (bantuan·info) (Bahasa Ibrani: אֲרִיאֵל שָׁרוֹן, juga dikenal dengan
Arik) (lahir 27 Februari 1928) adalah seorang politikus dan jenderal Israel.
Ia
menjabat sebagai Perdana Menteri Israel dari 7 Maret 2001 hingga 14 April 2006.
Kekuasaannya sebagai perdana menteri kemudian digantikan oleh Perdana Menteri
(sementara) Ehud Olmert karena ia terkena serangan stroke pada Januari 2006. Ia
mengalami koma dalam waktu yang lama, sehingga tidak memungkinkan untuk dapat
kembali menjalankan tugas-tugas
sebagai pemimpin pemerintahan. Ia lahir di Kfar
Malal (Mandat British Palestina) dan tampil sebagai pemimpin politik serta
militer berkebangsaan Israel. Sharon juga pernah menjadi pemimpin Likud, partai
terbesar dalam koalisi pemerintah dalam parlemen Israel, Knesset, hingga ia
mengundurkan diri dari partai tersebut pada 21 November 2005. Ia kemudian
membentuk partai baru bernama Kadima. Selama tiga puluh tahun Sharon berdinas
sebagai anggota Angkatan Bersenjata Israel. Pangkat tertingginya adalah Mayor
Jenderal. Ia menjadi terkenal di Israel karena keterlibatannya dalam Perang
Enam Hari pada tahun 1967 dan Perang Yom Kippur pada tahun 1973. Ariel Sharon
juga bertanggung jawab pada tragedi pembantaian Qibya pada 13 Oktober 1953 di
mana saat itu 96 orang Palestina tewas oleh Unit 101 yang dipimpinnya dan
pembantaian Sabra dan Shatila di Libanon pada 1982 yang mengakibatkan antara
3.000 - 3.500 jiwa terbunuh, sehingga ia dijuluki sebagai 'Tukang Jagal dari
Beirut'.
Awal
hidup dan karier militer
Ia
lahir dengan nama Ariel Scheinermann (Shinerman) dari sebuah keluarga pendukung
gerakan Zionis. Pada usia 17 tahun, ia bergabung dengan kelompok mafia Haganah
yang aktivitasnya meneror rakyat Palestina. Dalam melancarkan aksi teror, ia
secara bergantian berada di bawah komando Perdana Menteri David Ben Gurion,
Itzhak Shamir, dan Yitzhak Rabin.
Pada
masa perang kemerdekaan Israel tahun 1948, di usianya yang ke-20, ia telah
menjadi seorang komandan infantri Israel dalam Brigade Alexandroni. Pada saat
ia hendak membakar sebuah ladang, tiba-tiba rentetan peluru pejuang Palestina
menembus tubuhnya. Luka itu hampir saja merenggut nyawanya kalau saja ia tak
diselamatkan rekannya. Pada tahun itu juga, ia melanjutkan studi di bidang
hukum di Universitas Ibrani di Yerusalem. Pada 1953, ia membentuk sekaligus
memimpin unit komando khusus " Unit 101" yang bertugas melakukan
operasi-operasi khusus tingkat tinggi. Ia diangkat menjadi komandan dari korps
para-komando dan terlibat dalam perang memperebutkan Sinai pada tahun 1956.
Pada tahun 1957, ia meneruskan pendidikan kemiliterannya di Camberley Staff
College, Inggris.
Selama
tahun 1958-1962, Sharon pernah menjadi komandan Brigade Infantri, memimpin
Pusat Pendidikan Infantri dan mengikuti sekolah hukum di Universitas Tel Aviv.
Pada Perang Enam Hari (1967) yang melibatkan Israel melawan bangsa Arab, ia
menjabat sebagai komandan sebuah divisi tentara dengan Brigadir Jenderal.
Kemudian, ia mengundurkan diri dari dinas ketentaraan pada tahun 1972. Ketika
terjadi Perang Yom Kippur pada tahun 1973, ia dipanggil untuk memimpin divisi
tentara yang harus menyeberangi Terusan Suez.
Karier
politik
Karier
politiknya berawal pada tahun 1973 saat ia terpilih menjadi anggota Knesset.
Tetapi, ia mengundurkan diri setahun kemudian untuk menjadi Penasehat Keamanan
bagi Perdana Menteri Yitzhak Rabin. Ia kembali ke Knesset pada tahun 1977 dan
menerima jabatan sebagai Menteri Pertanian. Kemudian, ia menjabat Menteri
Pertahanan (1981-1983) ketika berkecamuk perang Lebanon saat tentara Israel
memasuki Lebanon atas perintahnya.
Ariel
Sharon kemudian mengundurkan diri ketika sebuah komisi pemerintah menuduhnya
terlibat secara tidak langsung dalam penyerangan September 1982 atas kaum
pengungsi Palestina di Sabra dan Shatila yang dilakukan oleh milisi Maronit
Lebanon. Korban dalam peristiwa tersebut mencapai lebih 3.000 orang terbunuh.
Selain, ia bertanggung jawab pada tragedi pembantaian Qibya 13 Oktober 1953
yang menewaskan 96 orang Palestina oleh Unit 101 yang dipimpinnya. Atas dua
peristiwa tersebut, sebagian orang menjulukinya sebagai "Penjagal dari
Beirut". Periode 1984-1990, ia kembali memasuki kabinet dan menjabat
sebagai Menteri Industri dan Perdagangan. Setelah itu, selama dua tahun, ia
menjadi Menteri Perumahan dan Konstruksi. Periode Juli 1996-Juli 1999, ia
menjabat sebagai Menteri Infrastruktur Nasional dan sebagai Menteri Luar Negeri
(Oktober 1998-Juli 1999). Pada sidang Knesset bulan Mei 1999, ia terpilih
sebagai Ketua Partai Likud menyusul mundurnya Perdana Menteri Benjamin
Netanyahu. Karier politiknya mencapai puncak ketika ia terpilih menjadi Perdana
Menteri Israel pada Februari 2001. Di tengah penjagaan yang sangat ketat, Ariel
Sharon mengangkat sumpah jabatan sebagai perdana menteri ke-11 di depan Forum
Knesset pada 7 Maret 2001. Pengambilan sumpah dilakukan setelah ia berhasil
membentuk pemerintah persatuan nasional dengan spektrum politik yang paling
luas dalam sepanjang sejarah Israel. Koalisi yang dipimpinnya mencapai dua
kesepakatan dasar menyangkut masa depan perdamaian. Langkah penarikan mundur
pasukan dari Jalur Gaza menimbulkan pertentangan serius di tubuh partai,
sementara dalam Partai Buruh terjadi pergantian pimpinan. Kursi Ketua Partai
Buruh beralih dari Shimon Peres ke Amir Peretz. Ia merespons langkah tersebut
dengan mundur dari Partai Likud (21 November 2005) untuk membentuk partai baru
yang diberi nama Partai Kadima (bahasa Ibrani: קדימה, Qādīmāh, "maju ke
depan") yang beraliran sentris.
Kesehatan
Sharon
Pada
tanggal 18 Desember 2005 Sharon mengalami stroke ringan dan segera dibawa ke
rumah sakit. Ia dirawat selama dua hari dan dijadwalkan akan menjalani operasi
pada jantungnya pada 5 Januari 2006. Namun pada 4 Januari 2006 ia kembali masuk
ke rumah sakit dari peternakannya di daerah Negev. Rupanya ia kembali mengalami
stroke, dan kali ini tampaknya agak parah. Bersamaan dengan serangan stroke
itu, Sharon mengalami pendarahan otak. Sharon menjalani operasi selama tujuh
jam untuk menghentikan pendarahan itu dan membuang darah yang mengumpul di
otaknya. Ia dirawat di unit perawatan intensif dan kecil sekali kemungkinannya
untuk kembali ke ajang politik, andaikata pun ia berhasil bertahan.
Sementara
itu, tugas-tugasnya sebagai perdana menteri dialihkan kepada Wakil Perdana
Menteri Ehud Olmert, yang saat ini berfungsi sebagai Penjabat Perdana Menteri.
Anggota-anggota
kunci dalam Partai Kadima mengatakan bahwa mereka akan mendukung Olmert. Hal
ini mengurangi kekuatiran bahwa gerakan tersebut, yang dibentuk oleh Sharon dua
bulan yang lalu, akan retak apabila Sharon tidak ada. Sebuah jajak pendapat
yang baru memperlihatkan Kadima akan menang dalam pemilu 28 Maret di bawah
pimpinan Olmert.
Para
pemimpin Palestina, yang menyelenggarakan pemilunya sendiri pada 25 Januari,
mengatakan bahwa mereka berhubungan dengan para pejabat Israel untuk mengikuti
kondisi Sharon. "Kami memantau cermat situasinya," kata perunding
Palestina Saeb Erekat.
Kondisi
kesehatan Ariel Sharon membuat banyak pihak was-was dan prihatin terhadap masa
depan rencana perdamaian di Timur Tengah. Kebijakan Sharon untuk melakukan pengunduran
diri dari Jalur Gaza dan Tepi Barat diyakini sejumlah pihak sebagai langkah
maju menuju perdamaian dengan bangsa Palestina. Namun kebijakan ini banyak
mengalami tantangan dari golongan kanan di Israel.
Pada
11 Februari 2006, kondisinya memburuk dan ia kembali harus menjalani pembedahan
darurat setelah sistem pencernaannya rusak parah.
Pada
11 April 2006, Kabinet Israel mengangkat Olmert sebagai Perdana Menteri
Sementara yang berlaku mulai tanggal 14 April, kecuali apabila kesehatan Sharon
membaik. Pada 14 April Sharon dinyatakan "berhalangan tetap", karena
sudah 100 hari ia dirawat di rumah sakit. Dengan demikian Olmert resmi
menggantikannya pada hari itu.
